Exhibition essay: Five stories about home

A group exhibition opened last night, 9 March, at Kelas Pagi Yogyakarta. The exhibition, titled Feels Like Home, explores the theme ‘home’ and displays photographs by Mira Asriningtyas, Dito Yuwono, Sandi Kalifadani, Stanislaus Yoga, and Kurniadi Widodo. The idea—of the theme ‘home’ and of doing the exhibition—came from Mira sometime in 2012.

Mira then asked me to write for the exhibition, a request I initially hesitated to accept. However, the project theme did interest me and the participating exhibitors are my friends, so I eventually said yes. So here it is, my short essay for the exhibition, in Bahasa Indonesia.

Lima cerita tentang rumah

“Anak muda seumuran kita sering tidak merasa di rumah ketika berada di rumah.”

Kata-kata itu dilontarkan Dito menjelang akhir 2012, ketika saya berbincang dengan dia soal kata ‘rumah’ yang diangkat menjadi tema sebuah projek fotografi kelompok. Projek yang digagas oleh Mira Asriningtyas ini melibatkan empat teman lain yang diajak berpameran: Dito Yuwono, Kurniadi Widodo, Stanislaus Yoga, dan Sandi Kalifadani. Kelimanya kira-kira seumuran—masih muda—dan saya kira tersentuh oleh tema ‘rumah’ dengan cara yang berbeda, sehingga menerjemahkan kata ‘rumah’ itu menjadi karya yang berbeda pula.

Saya mencatat kata-kata Dito itu karena ungkapan ini saya pikir mewakili apa yang saya lihat dari cerita-cerita yang diangkat oleh kelima peserta—dan apa yang saya rasakan sendiri tentang rumah. Ada kegelisahan yang terbaca di dalam pernyataan itu. Saya sendiri kerap tidak merasa di rumah ketika berada di rumah, sebab itu saya jarang di rumah. Dari situ, saya mencoba berefleksi dari cerita kelima teman yang berpameran. Di dalam beberapa kali kami mengobrol soal pameran ini, kami coba gali pengertian dan pengalaman kami tentang rumah.

Di dalam pengertian sehari-hari, rumah adalah tempat asal kita dan sekaligus tujuan kita. Setiap hari kita berangkat dari rumah untuk berkegiatan dan kita pulang kembali ke rumah setelah semua kegiatan kita tuntaskan. Rumah bisa juga dikembangkan maknanya menjadi daerah asal (kampung halaman) atau negara asal (tanah air). Adalah pengalaman kita masing-masing terhadap rumah itu sendiri yang kemudian membedakan—meluaskan—makna rumah pada tataran pribadi dan menjadikannya unik. Kata ‘rumah’ kemudian tidak dapat lagi dibayangkan sebagai sebuah gagasan yang bermakna tunggal.

Bagi Mira dan Dito, yang sedang mempersiapkan pernikahan mereka pertengahan tahun nanti, kata ‘rumah’ akan memiliki makna yang sama-sekali baru, baik bagi mereka berdua sebagai pasangan maupun diri mereka masing-masing. Di rumah, Yoga tinggal bersama ibu dan adik perempuannya. Setelah ayahnya berpulang dan kakak lelakinya kerap bolak-balik Yogya–Jakarta, peran bapak rumah tangga mesti dia jalankan sekaligus sebagai anak. Sandi adalah seorang guru yoga yang gemar musik hardcore dan folk, serta aktif mengikuti kegiatan masjid di kampungnya. Bagi Wid, rumah adalah lingkungan di sekelilingnya yang membuat dia merasa nyaman.

Makna rumah kemudian, rasanya lebih ditentukan oleh faktor psikologis kami masing-masing daripada aspek rumah itu sendiri secara fisik. Di dalam psikologi perkembangan, Erik Erikson menggariskan usia 20-an hingga 30-an sebagai masa dewasa awal. Teori Psikososial ini beranggapan, bahwa perkembangan kepribadian manusia berlangsung seumur hidup, dengan dipengaruhi oleh hubungan dengan orang lain dan ditentukan oleh keberhasilan—atau kegagalan—seseorang mengatasi krisis yang terjadi pada setiap tahapan kehidupannya. Masa dewasa awal ditandai kemampuan membentuk sebuah hubungan yang erat, utamanya dengan lawan jenis, dan komitmen terhadap karier.

Ketika kita masih mahasiswa, banyak orang bertanya kapan lulus. Usai kuliah, mereka tanya lagi mau kerja di mana. Sudah dapat pekerjaan, ditanya lagi kapan menikah. Setelah menikah, masih ditanya pula kapan mau punya anak (dan kalau sudah punya anak, masih ada pertanyaan, kapan si kakak akan diberi adik). Anekdot ini bisa menggambarkan soal hubungan serius dengan lawan jenis dan komitmen terhadap pekerjaan, yang membayangi kita pada masa dewasa awal—meski pemahaman kita soal ‘hubungan,’ ‘komitmen,’ dan ‘pekerjaan’ sekarang bisa jadi sudah berubah.

***

Di dalam pameran ini, Mira menunjukkan sekumpulan foto bangunan rumah di daerah sekitar tempat tinggalnya di Kaliurang. Beberapa konon berhantu, namun tidak berhantu pun penampakan rumah-rumah ini sudah seram karena kosong dan kurang terawat. Bagi Mira, rumah-rumah ini adalah bagian dari masa lalu sekaligus masa depannya. Sebagai anak kecil, Mira kerap mengagumi rumah-rumah tersebut. Dari kekaguman itu, Mira membangun bayangan rumah ideal untuk keluarganya kelak. Akan tetapi, menjadi pertanyaan juga baginya, mengapa rumah-rumah ini ditinggalkan. Mira pun mulai mencari tahu seluk-beluk rumah-rumah ini dari warga senior.

Mulai merasa tidak nyaman tinggal di rumah orangtuanya, dua tahun terakhir ini, Dito banyak menghabiskan waktunya di Lir Shop, sebuah ruang yang dia kelola bersama Mira di Baciro. Baciro pun menjadi rumah baginya dan dia mulai mengenali daerah sekitar, namun tidak warganya. Daerah Baciro memang biasanya sepi, lantaran para penghuninya pergi bekerja. Dito justru lebih mengenal para penjaja makanan yang biasa lewat, karena Dito kerap membeli jajanan mereka. Hanya dari suaranya, Dito bisa tahu mana penjual sate atau siomay langganannya, mana yang bukan. Maka, dia pun memotret mereka untuk membicarakan gagasannya soal rumah.

Yoga adalah seorang jurufoto yang sebetulnya butuh banyak waktu sendiri untuk bekerja. Akan tetapi, waktu untuk sendiri itu kerap terganggu oleh tugas rumah tangga: mengganti lampu yang mati atau membersihkan sudut-sudut rumah dari berbagai sarang dan serangga. Pengalaman ini kemudian jadi agak menjengkelkan, karena setiap kali dibersihkan, serangga-serangga itu segera kembali dan bersarang di tempat yang sama—ibu atau adik perempuannya pun akan segera memintanya membersihkan lagi. Yoga mulai berefleksi: Mengapa serangga-serangga ini datang ke rumahnya—atau apakah mereka malah sudah terlebih dahulu ada di sana.

Berbeda dengan ketiga peserta di atas, yang sengaja membuat seri foto untuk pameran ini, Sandi menampilkan foto awam yang sangat umum kita jumpai: foto-foto lama teman-teman—ciri utama vernacular photography. Sandi kerap ikut berkumpul di masjid bersama para pemuda kampung untuk bersosialisasi, karena Sandi adalah pendatang (bukan warga asli kampung tersebut). Sebagai satu-satunya orang yang memiliki alat perekam, dia merekam kegiatan-kegiatan mereka itu, sekadar untuk bersenang-senang. Foto-foto Sandi diambil hanya dengan menggunakan kamera ponsel atau kamera saku digital sederhana—ciri utama snapshot photography.

Sebagaimana kebanyakan foto vernacular dan snapshot lainnya, foto-foto Sandi ini terkesan tidak bernilai. Momen-momen ini begitu biasa, tidak ada yang monumental dan secara teknis tidak dipersiapkan untuk menjadi indah, sehingga kerap diabaikan dan tidak terekam. Namun demikian, justru di situlah sesungguhnya nilai terbesarnya: Sandi memfotonya ketika yang lain tidak, agar masa lalu tidak terhapus begitu saja tanpa jejak selain ingatan. Bagi Sandi, foto-foto ini adalah rekaman pengalaman masa lalu yang membuatnya merasa di rumah.

Mirip dengan Sandi, Wid juga tidak membuat foto baru untuk pameran ini, namun menampilkan kembali foto-foto lamanya. Yang berbeda, Wid menampilkan kembali foto-foto lamanya sebagai refleksi terhadap asal-muasal fotografi yang dipraktikkannya. Berawal dari kesukaannya memfoto apa pun di sekitarnya, termasuk teman-temannya, dengan kamera saku digital, Wid kemudian tertarik untuk terus mempelajari fotografi. Secara alamiah, Wid terus memfoto apa pun di sekitarnya tanpa banyak berpikir: dia memfoto karena dia menikmatinya—menikmati apa yang difoto dan menikmati proses mengambil foto itu sendiri.

Fotografi bagi Wid adalah kesenangan. Dia tidak terganggu dengan persoalan pengakuan, karena bukan itu yang dia cari dari fotografi. Fotografi bagi Wid, kemudian, adalah bagaimana memecahkan permasalahan visual melalui sebingkai foto. Untuk itu, dia menikmati prosesnya menyelami fotografi. Wid jadi heran ketika kata ‘fotografi’ di kalangan para penggemar dan pelakunya malah jarang menyentuh itu dan cenderung hanya membicarakan ikut ini-itu, kenal sana-sini, dan penghargaan anu-anu—topik yang justru tidak fotografis. Melihat kembali foto-foto lamanya, Wid merasa pulang ke rumah: Pertama, dia melihat kembali wajah sahabat-sahabat lamanya yang kini sudah jarang bertemu dan kedua, dia menggali kembali awal mula kesukaannya terhadap medium ini.

Seperti dinyatakan Erik Erikson di dalam Teori Psikososial, kita melihat faktor hubungan dengan orang lain dan faktor masa lalu secara berulang memunculkan pengaruhnya terhadap kelima cerita pengalaman pribadi di atas. Jika teori itu hendak kita yakini, maka pencarian mereka soal ‘rumah’ ini, apa pun hasilnya, akan mempengaruhi pilihan jalan mereka pula kelak.

***

Kelima teman ini telah mengakrabi fotografi dengan cara yang berbeda. Wid adalah seorang street photographer yang kini membantu mengurusi Kelas Pagi Yogya. Dito pernah menekuni fotografi panggung sebelum kini menjadi anggota kelompok seniman berbasis fotografi MES 56. Yoga adalah seorang fotografer yang kerap menangani acara pernikahan. Sandi masih sering memfoto dengan medium film 35mm menggunakan berbagai jenis kamera plastik. Mira menyenangi fotografi lebih banyak dari sisi lain kamera, yaitu di depan lensa. Menjadi menarik bagi saya kemudian, melihat kelima teman dengan pengalaman berbeda ini duduk bersama membicarakan soal ‘rumah’ menurut pemaknaan masing-masing—dan melihat kelima cerita itu mewujud di dalam foto dan dipajang di dalam pameran ini.

Di dalam buku On Photography, Susan Sontag mengungkapkan, “At one end of the spectrum, photographs are objective data; at the other end, they are items of psychological science fiction.” Sebuah foto dapat menyajikan rekaman data objektif sekaligus fiksi ilmiah psikologis. Rumah-rumah yang difoto Mira, misalnya, adalah rumah dan tiada lain selain rumah. Akan tetapi, di dalam foto-foto itu kita juga dapat melihat projeksi Mira soal rumah idaman. Foto Wid, umpamanya lagi, menyajikan rekaman visual teman-teman dekatnya, sekaligus membawa kita menelusuri masa lalu kehidupan dan praktik fotografinya.

Masa lalu memang menjadi salah satu kekuatan utama fotografi, sebab sebuah foto membekukan satu saat di dalam rentang waktu yang mengalir. Di dalam foto, apa atau siapa pun akan selalu tampak seperti itu, kendati aslinya merapuh, menua, menghilang. Bagi saya sendiri, faktor dokumentatif ini yang membuat saya tertarik dengan fotografi sejak awal. Sontag juga menuliskan, “Photographs are a way of imprisoning reality, […] one can’t possess the present but one can possess the past.” Fotografi memungkinkan kita memenjarakan kenyataan, sehingga kita dapat memiliki masa lalu. Fotografi, dengan demikian, adalah persoalan nostalgia.

Rumah, pada suatu saat, juga menjadi nostalgia bagi kita—sebab itu orang perantauan selalu pulang (mudik). Sampai di rumah, kita mengenang masa lalu: bermain di bawah hujan, cacing-cacing di kebun belakang, dimarahi orangtua, teman-teman di sekolah, piring dan gelas yang jatuh pecah, perabot yang berganti, belajar berhitung di bawah lampu temaram, lulus dan melanjutkan sekolah, meninggalkan rumah. Ketika kita merasa ada kenangan yang samar, kita mencari album foto lama untuk menegaskan kembali kenangan itu. Rumah lagi-lagi bukan melulu soal bangunan, melainkan adalah saat ketika segenap kenangan menyergap kita dan membuat kita merasa ingin pulang, ke mana pun itu. Selamat mencari ‘rumah!’

Budi N.D. Dharmawan
Ditulis di rumah, Yogyakarta, Maret 2013

"The Abandoned House Project" — Mira Asriningtyas

“The Abandoned House Project” — Mira Asriningtyas

"Familiar" — Dito Yuwono

“Familiar” — Dito Yuwono

"Inconvenience" — Stanislaus Yoga

“Inconvenience” — Stanislaus Yoga

"Welcome Home" — Sandi Kalifadani

“Welcome Home” — Sandi Kalifadani

"Origin" — Kurniadi Widodo

“Origin” — Kurniadi Widodo

Feels Like Home
Group photography exhibition by
Mira Asriningtyas, Dito Yuwono, Sandi Kalifadani, Stanislaus Yoga, Kurniadi Widodo
Essay by Budi N.D. Dharmawan
Kelas Pagi Yogyakarta, 10–17 March 2013
Opening 9 March 2013, 19.00
Open daily 14.00–20.00

Advertisements

One thought on “Exhibition essay: Five stories about home

  1. Pingback: Feels Like Home | kalifadani

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s