Mentoring for “Menelisik Jogjakarta” photo exhibition with Unit Fotografi UGM Yogyakarta

UFO Menelisik

I have been mentoring a group of students from Unit Fotografi Universitas Gadjah Mada (UFO UGM) Yogyakarta as they prepared their annual exhibition. The exhibition features works by the members of UFO UGM Batch XXV, which can be seen as the continuation of their previous exhibition, just before they were inaugurated as members.

UFO Menelisik_0000

UFO Menelisik_0210

UFO Menelisik_0290

UFO Menelisik_0323

UFO Menelisik_0325

UFO Menelisik_0326

UFO Menelisik_0327

UFO Menelisik_0329

UFO Menelisik_0389

UFO Menelisik_0393

UFO Menelisik_0394

UFO Menelisik_0405

UFO Menelisik_0449

Photographs by Budi N.D. Dharmawan /
except bottom photograph, courtesy of Danyswara Gobi/Afdruk 56

Advertisements

Writing for “6 in 1 +” exhibition at Sangkring Art Yogyakarta

Sangkring 1

I posted earlier that I went to Surabaya to meet with artist Jopram, as I was writing about him for an upcoming group exhibition hosted by Sangkring Art in Yogyakarta.

I attended the opening last night and met again with Jopram. I also visited the gallery the other day as Jopram was installing his works.

Sangkring_0321
Before the exhibition was officially opened. Bale Banjar Sangkring, 4 Oct 2018.

The exhibition features works by seven artists from East Java: Jopram, Joni Ramlan, Hadi Sucipto, Lini Natalini Widhiasi, Beni Dewo, Isa Ansory, and Iwan Yusuf.

Exhibition view of works by Jopram:

Sangkring_0311

Sangkring_0312

Sangkring_0313

Sangkring_0314

Sangkring_0315

Sangkring_0316

Sangkring_0317

Sangkring_0318

For this exhibition, Jopram exhibited a series of works that he has been working on for a few years, in memory of his childhood and showing his gratitude towards his parents who were both farmers. Just a few days prior to the opening, Jopram’s father unexpectedly passed, while his mother had passed four years ago. Jopram quickly made a new painting (finished in two days), marking the completion of the series, depicting both his father and mother.

His works mainly consist of installations, displayed along with two large paintings, a series of photographs from his painting performances, and two videos that document the performances. During our interview, Jopram told me that in this particular exhibition, he is showing ‘events’, in comparation to ‘merely’ visual aesthetics.

Following is the text I wrote about Jopram, which I submitted to the curator Mr. Kris Budiman (in Bahasa Indonesia):

Peristiwa Jopram
Budi N.D. Dharmawan

“Selamat jalan bapak.. Selamat jalan petaniku…”

Demikian Jopram menuliskan perpisahannya kepada sang bapak, yang berpulang 14 September 2018 silam. Peristiwa itu membuat karya Jopram yang kini terpajang di dalam pameran ini telah mencapai lingkaran penuh. Karya-karya yang telah dia kerjakan selama beberapa tahun terakhir ini merupakan penelusuran artistik Jopram tentang akar dan riwayatnya, mengenai sosok bapak dan ibunya. Jopram, pelukis itu, adalah anak petani.

Sebelum menjadi petani, bapak Jopram adalah seorang jagal sapi yang sukses pada pertengahan dasawarsa 1960-an. Dengan niat melipatgandakan penghasilannya, bapak Jopram kemudian menjajal peruntungan sebagai bandar judi. Banyak nomor pemasang yang tembus, akibatnya sang bapak justru rugi besar dan banting setir menjadi petani. Jopram mengenang, waktu itu bapaknya paling miskin di kampung. Perubahan peruntungan yang begitu drastis mengguncang mental ibu Jopram sehingga mengalami depresi berkepanjangan. Keadaan itu membuat Jopram lebih sering dirawat oleh tetangga sejak dilahirkan pada 1975.

Jopram kecil sering membantu bapaknya bertani di sawah. Adalah cukup mengejutkan kemudian, bahwa sebagai anak petani miskin di kampung yang jauh dari pusat kota, Jopram bisa menjadi pelukis. Memang, di sekolah, Jopram lebih suka coret-coret menggambar daripada memperhatikan nilai mata pelajaran lainnya. Saat masih duduk di kelas 3 SD, Jopram tiba-tiba seperti mendapat ilham: Dia ingin dapat mengubah nasibnya lewat kesenian, seperti sang maestro Affandi, yang bisa menjadi kaya dengan melukis. Angan-angan itu terus dia rawat, dimulai dengan menciptakan jenama Jopram (singkatan dari nama aslinya Joko Pramono) saat menginjak kelas 1 SMP.

Jopram tidak lantas langsung menjadi pelukis, tentu saja. Laku kehidupannya yang berlika-liku mengantarkannya menjadi buruh pabrik, kuli bangunan, juga mekanik bengkel setelah meninggalkan bangku SMP. Ilham kembali mendatangi Jopram kala dia tertidur di gudang selepas bekerja: Dia bermimpi menjadi seniman yang telah berpameran tunggal. Mimpi itu membangunkan angan-angan lamanya untuk menjadi pelukis. Tanpa persiapan, Jopram memberanikan diri ikut kontes melukis dan berhasil menempati peringkat ketiga.

Gelar juara itu menjadi modal Jopram meminta restu orang tuanya untuk meneruskan studi ke Sekolah Menengah Seni Rupa (Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 11) Surabaya pada usia 19 tahun. Sejak itulah, Jopram membenamkan diri di dalam dunia gambar dan menggeluti berbagai macam teknik melukis. Bisa dibilang, salah satu hal yang tidak berubah dari Jopram hingga kini adalah bahwa gaya lukisannya terus berubah-ubah. Bagi Jopram, identitas artistik bukanlah soal kekhasan visual, melainkan soal karakter atau rasa.

Karakter Jopram, menurut pengakuannya sendiri, adalah berkarya dengan bersumber kembali ke alam atau ke diri sendiri. Jopram memang kerap menumpahkan pengalaman dan perasaannya ke atas kanvas, khususnya di dalam karya-karyanya yang kini terpajang di sini. Dengan menelusuri kembali ingatan dan perasaannya tentang bapak dan ibunya, Jopram mengangkat hubungan orang tua dengan anak, serta berbakti dan balas budi. Jopram mau menyampaikan hal-hal yang dekat dan sederhana lewat karyanya, tidak hanya secara artistik, namun juga bisa mengena secara emosional.

Karya berjudul “Lumbung Kosong” mencerminkan ingatan Jopram tentang sang bapak, yang dia kenang sebagai sosok yang tegas, penuh semangat, dan pekerja keras. Sebagai petani, penghasilan ayah Jopram tidak imbang dengan kerja keras dan cucuran keringatnya. Konsep kesejahteraan buruh tani turut muncul di sini: Betapa ironisnya, orang-orang yang berpeluh mengolah lahan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat malah justru tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.

Paradoks menjadi konsep lain yang dimainkan Jopram secara kreatif. Sebelum mengenal mesin giling padi, petani merontokkan gabah dengan cara menginjak-injak atau menggilasnya. Proses ini sesungguhnya menyakitkan, karena padi itu mencucuk-cucuk telapak kaki. Perih yang ditanggung petani menggilas padi tidak berhenti di situ, namun berlanjut terus karena lagi-lagi petani tergilas kebutuhan hidup yang tidak dapat dipenuhi.

Sementara itu, karya berjudul “Cahaya di Lorong Kelam” memantulkan memori Jopram mengenai sang ibu, yang telah terlebih dahulu berpulang empat tahun yang lampau. Ibu Jopram kerap mendapatkan ‘penampakan’ spiritual. Ibu Jopram kemudian mencoba ‘mengusir’ gangguan ‘roh halus’ itu dengan memukul-mukulkan sapu lidi. Ibu Jopram sesungguhnya sosok yang lembut, penyabar, dan penyayang, serta tidak pernah memarahi anak-anaknya. Tidak dapat dibayangkan, perasaan macam apa yang dia pendam di dalam benaknya, terlebih lagi mengingat kondisi mentalnya yang terguncang.

Guna melengkapi rangkaian karya reflektif ini, sepeninggal sang ayah, hanya beberapa hari saja sebelum tenggat pengiriman karya untuk pameran ini, Jopram melukis kilat sebuah potret ganda ayah dan ibunya. Kanvas terakhir Jopram di dalam seri ini tersebut seolah menjadi penanda, betapa perjalanan sang seniman menelusuri lorong kenangan itu telah mencapai satu lingkaran penuh. Dari kedua orang tuanya, Jopram mewarisi keteguhan untuk dapat tetap kuat di tengah kesukaran; untuk mampu bertahan di tengah situasi terpuruk dan bisa menikmatinya. Di dalam gelaran ini, Jopram memang sedang memamerkan peristiwa.

Surabaya–Yogyakarta,
September 2018

 

6 in 1 + Exhibition, 4–20 October 2018
Bale Banjar Sangkring and Sangkring Art Project
Yogyakarta

Sangkring_0319

Sangkring opening1

Sangkring opening2

Photographs by Budi N.D. Dharmawan
Except for the two bottom photographs, courtesy of Sangkring Art Space

Sharing about Raden Saleh at Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Budi ITS Surabaya.jpg

On Wednesday, 26 September 2018, I was asked to share about Indonesia’s first modern painter Raden Saleh (1811–1880) at Design History class, Visual Communication Design, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya.

My presentation was based on my report for National Geographic Indonesia magazine, published in May 2012. Thank you for professor Senja Aprela Agustin for hosting me, and for all of the students who have attended and listened.

 

P.S.: Can you spot which one I am? Can you spot where the cat is?

In Surabaya visiting artist Jopram

Budi Surabaya 1Budi Surabaya 2

Surabaya, East Java, Monday, 24 September 2018.
Visiting Surabaya to meet with artist Jopram at his studio.
Writing about him for an upcoming exhibition in Yogyakarta. ∎

Mentoring for “Ekspedisi Banyuwangi” photo exhibition with Unit Fotografi UGM Yogyakarta

Untitled-1

I have been mentoring a longer process with students of Universitas Gadjah Mada (UGM) who are active members of Unit Fotografi (UFO) UGM in exploring Banyuwangi, East Java, and presenting the resulting photographs. The so-called expedition had taken place in 26–30 April 2018, with seven team members: Nanda Widyasari, Yuliana Azmi, Mahdi Muhammad, Muhammad Hasan, and Awang Pradipa of UFO XXII, as well as Demas Faa’iz Al Musyaffa and Rendika Wijayanto of UFO XXIII.

Once they returned from Banyuwangi, we worked together in selecting, editing, and retouching their photos in order to present them in an exhibition. The exhibition have just taken place at the Galerie of Institut Français Indonesia (IFI) Yogyakarta in Sagan, 21–22 September 2018.

Budi Banyuwangi 01
Banyuwangi team present their preparation prior to the expedition, 23 April 2018.

Budi Banyuwangi 02
Banyuwangi Expedition team prepares to leave Yogyakarta, 26 April 2018.

Budi Banyuwangi 03
Banyuwangi Expedition team arrives back in Yogyakarta, 30 April 2018.

Budi Banyuwangi 04
Banyuwangi Expedition team arrives back in Yogyakarta, 30 April 2018.

Budi Banyuwangi 05
Installing photographs for Banyuwangi exhibition at IFI Yogyakarta, 20 September 2018.

Budi Banyuwangi 06
One of UFO UGM’s first members, Pinto N.H., is seen at the Banyuwangi exhibition opening, 21 September 2018.

Budi Banyuwangi 07
Former headmaster of Kelas Pagi Yogyakarta, Kurniadi Widodo, is seen at the Banyuwangi exhibition opening, 21 September 2018.

Budi Banyuwangi 08
Some of Banyuwangi Expedition team members with UFO UGM Supervisor, Prof. Drs. Harno Dwi Pranowo, M.Si., Dr.rer.nat., 21 September 2018.

Budi Banyuwangi Display

Budi Banyuwangi Display1

Budi Banyuwangi Display2

Budi Banyuwangi Display3

Photographs by Budi N.D. Dharmawan.

Panelist at “Hirau” photo exhibition discussion

Hirau Budi.jpg

I am invited as a panelist at a discussion held in conjunction with the photography exhibition “Hirau” held at Kelas Pagi Yogyakarta. The exhibition is a result of a short photo story workshop organised by Kelas Pagi Yogyakarta. The participants have previously presented their works, but then decided to print and exhibit them. They invited four panelists to comment on their works in a public forum.

The exhibitors are Alni Widayanti, Annisa Rachmatika Sari, Arifin, Felixrio Prabowo, Nahary Latifah, Tonny Hartono Anwar, dan Yovita Metty N. The panelists are Kurniadi WIdodo, Anggertimur Lanang Tinarbuko, Dessy Rachma, and yours truly. The forum will be held at Kelas Pagi Yogyakarta on Thursday, 30 August 2018 at 4 p.m. and moderated by Novan Jemmi Andrea. The event is open for public and free of charge. ∎