Documentary photography discussion at Photography Department, ISI Yogyakarta

budi dokumenter isi 2019

I have been invited to spark discussion about the practice of documentary photography, which will be held on Wednesday, 16 January 2019. This event is in conjunction with the final exhibition of Sewon-based ISI Yogyakarta’s photography 2014 students, which is titled Pekan Fotografi Sewon (Sewon Photography Week).

In this discussion I will be responding to three students’ work who talk about and make bodies of documentary work: Rosita Carolina Y., Isroviana Sarasvati, and Ita Nur Wulandari (Photography 2014). I will try to broaden the perspective on documentary photography by shortly examining its development over the years; also how ideas of its practitioners and encounters with other fields such as arts, technology, and media have pushed its boundaries and opened doors to new possibilities within its practice.

I draw numerous thoughts to start this conversation, among others from Beaumont Newhall, Roy E. Stryker, Susan Meiselas, Fred Ritchin, Stephen Mayes, Ariella Azoulay, John Szarkowski, Sarah Meister, Abigail Solomon-Godeau, Stephen Bull, James Curtis, and David Campany, as well as from my own experience both as a photographer and a reader of photographs.

The event is open for public and free of charge. See you if you are around! ∎

Advertisements

New year 2019

budinewyear2019
Rizki watches firecrackers as the year 2018 ends and 2019 begins at Universitas Gadjah Mada boulevard. Yogyakarta, 1 January 2019. Photo by Budi N.D. Dharmawan.

Happy new year 2019! ∎

Nitilaku UGM 2018

Some personal favourite photographs from Nitilaku UGM 2018 event last Sunday:

BUDINDDHARMAWAN_MG_3854 JPG
Sri Sultan Hamengku Bawana X, the Governor of Yogyakarta Province

BUDINDDHARMAWAN_MG_3880 JPG
Ganjar Pranowo (in red), the Governor of Central Java

BUDINDDHARMAWAN_MG_3954 JPG
Alun-alun Utara (North Square)

BUDINDDHARMAWAN_MG_3962 JPG
Nol Kilometer point junction

BUDINDDHARMAWAN_MG_4013 JPG
Melia Purosani Hotel junction

BUDINDDHARMAWAN_MG_4020 JPG
Melia Purosani Hotel junction

BUDINDDHARMAWAN_MG_4034 JPG
Jambu Bridge junction

BUDINDDHARMAWAN_MG_4102 JPG
Kewek (Kerkweg), near Kotabaru church

BUDINDDHARMAWAN_MG_4185 JPG
Jalan Cik Di Tiro

BUDINDDHARMAWAN_MG_4209 JPG
Jalan Cik Di Tiro

BUDINDDHARMAWAN_MG_4347 JPG
Boulevard UGM

BUDINDDHARMAWAN_MG_4446 JPG
Grha Sabha Pramana UGM

BUDINDDHARMAWAN_MG_4496 JPG
Performance by Anter Dance

BUDINDDHARMAWAN_MG_4601 JPG
Performace by Cendrawasih Modern Keroncong, from the Police Academy

BUDINDDHARMAWAN_MG_4676 JPG
Performance by Endah Laras

Photographs by Budi N.D. Dharmawan ∎

Photographing culture talk show at Refleksi Photography, Universitas Jenderal Soedirman

I will be talking about photographing culture and local wisdom at Universitas Jenderal Soedirman’s Refleksi Photography exhibition this weekend in Purwokerto, Banyumas, Central Java. I will be sharing about ethnophotography approach, along with Aji Susanto Anom who will speak about photography technique and Kukuh Sukmana Hasan Surya who will speak about Banyumas culture.

The event is open for public with tickets. See the poster for information.

UPDATE
Some photographs from the event

Mentoring for “Menelisik Jogjakarta” photo exhibition with Unit Fotografi UGM Yogyakarta

UFO Menelisik

I have been mentoring a group of students from Unit Fotografi Universitas Gadjah Mada (UFO UGM) Yogyakarta as they prepared their annual exhibition. The exhibition features works by the members of UFO UGM Batch XXV, which can be seen as the continuation of their previous exhibition, just before they were inaugurated as members.

UFO Menelisik_0000

UFO Menelisik_0210

UFO Menelisik_0290

UFO Menelisik_0323

UFO Menelisik_0325

UFO Menelisik_0326

UFO Menelisik_0327

UFO Menelisik_0329

UFO Menelisik_0389

UFO Menelisik_0393

UFO Menelisik_0394

UFO Menelisik_0405

UFO Menelisik_0449

Photographs by Budi N.D. Dharmawan /
except bottom photograph, courtesy of Danyswara Gobi/Afdruk 56

Writing for “6 in 1 +” exhibition at Sangkring Art Yogyakarta

Sangkring 1

I posted earlier that I went to Surabaya to meet with artist Jopram, as I was writing about him for an upcoming group exhibition hosted by Sangkring Art in Yogyakarta.

I attended the opening last night and met again with Jopram. I also visited the gallery the other day as Jopram was installing his works.

Sangkring_0321
Before the exhibition was officially opened. Bale Banjar Sangkring, 4 Oct 2018.

The exhibition features works by seven artists from East Java: Jopram, Joni Ramlan, Hadi Sucipto, Lini Natalini Widhiasi, Beni Dewo, Isa Ansory, and Iwan Yusuf.

Exhibition view of works by Jopram:

Sangkring_0311

Sangkring_0312

Sangkring_0313

Sangkring_0314

Sangkring_0315

Sangkring_0316

Sangkring_0317

Sangkring_0318

For this exhibition, Jopram exhibited a series of works that he has been working on for a few years, in memory of his childhood and showing his gratitude towards his parents who were both farmers. Just a few days prior to the opening, Jopram’s father unexpectedly passed, while his mother had passed four years ago. Jopram quickly made a new painting (finished in two days), marking the completion of the series, depicting both his father and mother.

His works mainly consist of installations, displayed along with two large paintings, a series of photographs from his painting performances, and two videos that document the performances. During our interview, Jopram told me that in this particular exhibition, he is showing ‘events’, in comparation to ‘merely’ visual aesthetics.

Following is the text I wrote about Jopram, which I submitted to the curator Mr. Kris Budiman (in Bahasa Indonesia):

Peristiwa Jopram
Budi N.D. Dharmawan

“Selamat jalan bapak.. Selamat jalan petaniku…”

Demikian Jopram menuliskan perpisahannya kepada sang bapak, yang berpulang 14 September 2018 silam. Peristiwa itu membuat karya Jopram yang kini terpajang di dalam pameran ini telah mencapai lingkaran penuh. Karya-karya yang telah dia kerjakan selama beberapa tahun terakhir ini merupakan penelusuran artistik Jopram tentang akar dan riwayatnya, mengenai sosok bapak dan ibunya. Jopram, pelukis itu, adalah anak petani.

Sebelum menjadi petani, bapak Jopram adalah seorang jagal sapi yang sukses pada pertengahan dasawarsa 1960-an. Dengan niat melipatgandakan penghasilannya, bapak Jopram kemudian menjajal peruntungan sebagai bandar judi. Banyak nomor pemasang yang tembus, akibatnya sang bapak justru rugi besar dan banting setir menjadi petani. Jopram mengenang, waktu itu bapaknya paling miskin di kampung. Perubahan peruntungan yang begitu drastis mengguncang mental ibu Jopram sehingga mengalami depresi berkepanjangan. Keadaan itu membuat Jopram lebih sering dirawat oleh tetangga sejak dilahirkan pada 1975.

Jopram kecil sering membantu bapaknya bertani di sawah. Adalah cukup mengejutkan kemudian, bahwa sebagai anak petani miskin di kampung yang jauh dari pusat kota, Jopram bisa menjadi pelukis. Memang, di sekolah, Jopram lebih suka coret-coret menggambar daripada memperhatikan nilai mata pelajaran lainnya. Saat masih duduk di kelas 3 SD, Jopram tiba-tiba seperti mendapat ilham: Dia ingin dapat mengubah nasibnya lewat kesenian, seperti sang maestro Affandi, yang bisa menjadi kaya dengan melukis. Angan-angan itu terus dia rawat, dimulai dengan menciptakan jenama Jopram (singkatan dari nama aslinya Joko Pramono) saat menginjak kelas 1 SMP.

Jopram tidak lantas langsung menjadi pelukis, tentu saja. Laku kehidupannya yang berlika-liku mengantarkannya menjadi buruh pabrik, kuli bangunan, juga mekanik bengkel setelah meninggalkan bangku SMP. Ilham kembali mendatangi Jopram kala dia tertidur di gudang selepas bekerja: Dia bermimpi menjadi seniman yang telah berpameran tunggal. Mimpi itu membangunkan angan-angan lamanya untuk menjadi pelukis. Tanpa persiapan, Jopram memberanikan diri ikut kontes melukis dan berhasil menempati peringkat ketiga.

Gelar juara itu menjadi modal Jopram meminta restu orang tuanya untuk meneruskan studi ke Sekolah Menengah Seni Rupa (Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 11) Surabaya pada usia 19 tahun. Sejak itulah, Jopram membenamkan diri di dalam dunia gambar dan menggeluti berbagai macam teknik melukis. Bisa dibilang, salah satu hal yang tidak berubah dari Jopram hingga kini adalah bahwa gaya lukisannya terus berubah-ubah. Bagi Jopram, identitas artistik bukanlah soal kekhasan visual, melainkan soal karakter atau rasa.

Karakter Jopram, menurut pengakuannya sendiri, adalah berkarya dengan bersumber kembali ke alam atau ke diri sendiri. Jopram memang kerap menumpahkan pengalaman dan perasaannya ke atas kanvas, khususnya di dalam karya-karyanya yang kini terpajang di sini. Dengan menelusuri kembali ingatan dan perasaannya tentang bapak dan ibunya, Jopram mengangkat hubungan orang tua dengan anak, serta berbakti dan balas budi. Jopram mau menyampaikan hal-hal yang dekat dan sederhana lewat karyanya, tidak hanya secara artistik, namun juga bisa mengena secara emosional.

Karya berjudul “Lumbung Kosong” mencerminkan ingatan Jopram tentang sang bapak, yang dia kenang sebagai sosok yang tegas, penuh semangat, dan pekerja keras. Sebagai petani, penghasilan ayah Jopram tidak imbang dengan kerja keras dan cucuran keringatnya. Konsep kesejahteraan buruh tani turut muncul di sini: Betapa ironisnya, orang-orang yang berpeluh mengolah lahan untuk memenuhi kebutuhan pangan masyarakat malah justru tidak dapat memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri.

Paradoks menjadi konsep lain yang dimainkan Jopram secara kreatif. Sebelum mengenal mesin giling padi, petani merontokkan gabah dengan cara menginjak-injak atau menggilasnya. Proses ini sesungguhnya menyakitkan, karena padi itu mencucuk-cucuk telapak kaki. Perih yang ditanggung petani menggilas padi tidak berhenti di situ, namun berlanjut terus karena lagi-lagi petani tergilas kebutuhan hidup yang tidak dapat dipenuhi.

Sementara itu, karya berjudul “Cahaya di Lorong Kelam” memantulkan memori Jopram mengenai sang ibu, yang telah terlebih dahulu berpulang empat tahun yang lampau. Ibu Jopram kerap mendapatkan ‘penampakan’ spiritual. Ibu Jopram kemudian mencoba ‘mengusir’ gangguan ‘roh halus’ itu dengan memukul-mukulkan sapu lidi. Ibu Jopram sesungguhnya sosok yang lembut, penyabar, dan penyayang, serta tidak pernah memarahi anak-anaknya. Tidak dapat dibayangkan, perasaan macam apa yang dia pendam di dalam benaknya, terlebih lagi mengingat kondisi mentalnya yang terguncang.

Guna melengkapi rangkaian karya reflektif ini, sepeninggal sang ayah, hanya beberapa hari saja sebelum tenggat pengiriman karya untuk pameran ini, Jopram melukis kilat sebuah potret ganda ayah dan ibunya. Kanvas terakhir Jopram di dalam seri ini tersebut seolah menjadi penanda, betapa perjalanan sang seniman menelusuri lorong kenangan itu telah mencapai satu lingkaran penuh. Dari kedua orang tuanya, Jopram mewarisi keteguhan untuk dapat tetap kuat di tengah kesukaran; untuk mampu bertahan di tengah situasi terpuruk dan bisa menikmatinya. Di dalam gelaran ini, Jopram memang sedang memamerkan peristiwa.

Surabaya–Yogyakarta,
September 2018

6 in 1 + Exhibition, 4–20 October 2018
Bale Banjar Sangkring and Sangkring Art Project
Yogyakarta, Indonesia
More information: https://sangkringart.com/2018/10/6-in-1-pameran-perupa-jawa-timur/

Sangkring_0319

Sangkring opening1

Sangkring opening2

Photographs by Budi N.D. Dharmawan
Except for the two bottom photographs, courtesy of Sangkring Art Space